Rabu, 30 Maret 2011

Meretas Sejarah

All England Super Series
Turnamen prestisius All England atau yang dalam dua tahun terakhir ini berganti kulit menjadi All England Super Series tak bisa dipisahkan dari sejarah bulutangkis kita. Di ajang inilah, hampir setengah abad silam, Tan Joe Hok mengukir tinta emas sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi kampiun pada 1959. Setelah itu, pemain seperti Rudy Hartono, yang mengoleksi delapan gelar juara, rekor yang belum terpecahkan hingga kini, menjadi legenda. Berikutnya muncul nama-nama Liem Swie King, Ardy B. Wiranata, dan Hariyanto Arbi meneruskan hegemoni Indonesia di sektor tunggal putra.

Di ganda putra, hadir Christian Hadinata/Ade Chandra, Tjun Tjun/Johan Wahyudi, Kartono/Heryanto, Eddy Hartono/Gunawan, Gunawan/Bambang Supriyanto, Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky, Candra Wijaya/Tony Gunawan, Tony/Halim Haryanto, Candra/Sigit Budiarto. Di ganda putri ada Minarni Soedaryanto/Retno Kustijah dan Verawaty Fajrin/Imelda Wiguna serta di campuran muncul Christian Hadinata/Imelda Wiguna.

Namun, kejayaan itu belakangan ini surut. Tidak ada lagi pemain kita yang berdiri di podium juara. Pemain terakhir yang memenangi kejuaraan tertua ini adalah Candra/Sigit pada tahun 2003.

“Setelah itu, kita memang mengalami paceklik prestasi hingga sekarang. Rekor buruk ini tentu harus dipecahkan sekarang,” sebut Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PB PBSI, Lius Pongoh.

Tiga Nomor


Kini, dalam kejuaraan yang berlangsung di National Indoor Arena (NIA), Birmingham, 4-9 Maret, harapan itu coba kembali dihidupkan. Pemain-pemain Indonesia mencoba meretas sejarah dalam kejuaraan berhadiah total 200 ribu dolar AS itu. Harapan itu paling tidak ada di tiga nomor, yaitu ganda campuran, ganda putra, dan tunggal putra.

Christian, yang kini menjadi koordinator pelatih di Pelatnas Cipayung, berharap kemenangan yang dibuatnya pada 1979 bersama Imelda bisa dipecahkan kali ini. Apalagi, dua pasangan, Nova Widianto/Lilyana Natsir (unggulan kedua) serta Flandy Limpele/Vita Marissa (unggulan 3) memiliki kapasitas menjadi jawara.

“Peluang tetap ramai. Kalau mulus kami akan bertemu Flandy/Vita di semifinal,” sebut Nova sebelum terbang ke Birmingham, Sabtu.

Hal serupa ditimpali Lilyana. “Undiannya memang lumayan berat, tetapi peluang tetap ada. Kami perlu kerja keras dan semoga diberi keberuntungan,” ujar Butet, sapaan Lilyana.

Sebagai juara dunia dua kali, tahun 2005 di Anaheim, AS, dan 2007 di Kuala Lumpur, Nova/Butet memang begitu diharapkan bisa mengikuti jejak Christian/Imelda. “Doakan mudah-mudahan kami bisa,” tambah Nova. “Mudah-mudahan saya dan Nova bisa membuat sejarah lagi di All England,” tutur Butet.

Sikap lebih optimistis dilontarkan Vita. “Kondisi kami sangat siap. Juara? Tentu semua pemain pasti bertanding untuk menjadi juara,” kata Vita.

Selain di campuran, duet Markis Kido/Hendra Setiawan juga memiliki peluang besar. Sebagai unggulan kedua, dia bisa terhindar dari musuh terbesar yang belum dikalahkannya, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (Malaysia), di babak awal.

“Semoga saja Koo/Tan terganjal lebih dulu sehingga kami bisa menjadi juara,” sebut Hendra.

Mampukah pasukan Cipayung memecahkan tradisi buruk belakangan ini di ajang yang disebut-sebut sebagai kejuaraan dunia tidak resmi itu? Harapan itu kini dibebankan kepada 26 pemain.

Selamat berjuang, Bung! (Broto Happy W.)

PEMAIN YANG DIKIRIM
---------------------------------------
Tunggal Putra: Sony Dwi Kuncoro, Taufik Hidayat, Tommy Sugiarto
Tunggal Putri: Maria Kristin Yulianti, Adrianti Firdasari, Pia Zebadiah
Ganda Putra: Markis Kido/Hendra Setiawan, Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto, Joko Riyadi/Hendra Aprida Gunawan, Bona Septano/Muhammad Aksan
Ganda Putri: Vita Marissa/Lilyana Natsir, Endang Nursugianti/Rani Mundiasti, Jo Novita/Greysia Polii, Nitya Krishinda/Lita Nurlita
Ganda Campuran: Nova Widianto/Lilyana Natsir, Flandy Limpele/Vita Marissa, M. Rizal/Greysia Polii, Davin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita


sumber :http://www.badminton-indonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2503&Itemid=2

0 komentar:

Posting Komentar